Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PROSEDUR SIMULASI TANGGAP DARURAT

 

 


  No. IK          : 011.3/IK/PMI/09/2019 DISETUJUI OLEH QHSE  PMI

PROSEDUR SIMULASI TANGGAP DARURAT EDISI/ REVISI : 20 September 2019 REVIEW   YARD Sep-20















I TUJUAN









Mengidentifikasi dan membuat perencanaan keadaan darurat di tempat kerja serta bagaimana menangani keadaan tersebut dengan koordinasi yang baik, cepat, dan aman sehingga dapat mencegah atau meminimalkan dampak pada pekerja, peralatan, dan lingkungan, property serta asset perusahaan, atau mengganggu jalannya operasi perusahaan.


























II RUANG LINGKUP








Prosedur ini mencakup kondisi keadaan darurat; kebakaran dan ledakan , tumpahan  material dalam skala besar, bencana alam, terorisme dan huru-hara, kecelakaan/keracunan massal serta kegagalan fungsi mesin dan peralatan yang berpengaruh besar terhadap keselamatan operasi perusahaan.























III REFERENSI / DASAR HUKUM







3.1 SMK3, PP No. 50 Thn 2012, kriteria 6.7 & 6.9


















IV DEFINISI








1. Keadaan Darurat









 Kejadian terkait cidera, sakit penyakit, kematian, atau pencemaran lingkungan yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan yang membutuhkan penerapan kompetensi khusus yang mendesak, serta sumber daya, atau proses untuk mencegah atau mengurangi konsekuensi aktual dan potensial.   



 



 





2. Kecelakaan 










Suatu insiden yang menyebabkan cidera, sakit penyakit, atau kematian, atau pencemaran lingkungan 





3. Insiden 










Kejadian yang terkait pekerjaan di mana terjadinya atau mungkin dapat terjadinya suatu peristiwa cidera, sakit penyakit, kematian, atau pencemaran lingkungan.





4. Unit Tanggap Darurat (UTD) 








Tim yang sudah dilatih dan ditugaskan untuk menanggulangi keadaan darurat di perusahaan PT Maegatama Adikarya (Indo Medika International)





5. Huru hara 










Kekacauan / gangguan ketenangan publik yang dilakukan oleh tiga orang atau lebih untuk suatu tujuan pribadi atau kelompok tertentu dengan melakukan teror atau kerusuhan.









V.        TANGGUNG JAWAB







1. Factory Manager  









bertanggung jawab untuk mengevaluasi efektivitas sistem kesiap-siagaan dan tanggap darurat, agar terus dapat dilaksanakan dengan baik.





2. Departemen HSE 









bertanggung jawab untuk:








Mengkoordinasikan pemeriksaan kondisi fisik peralatan pemadam kebakaran (APAR, Heat Detector & Smoke Detector) secara berkala dengan Dinas Pemadam Kebakaran.







Berkoordinasi dengan pihak eksternal dalam hal pelaporan kejadian serta penanggulangan keadaan darurat (seperti: Dinas Pemadam Kebakaran, Kepolisian, Instansi Pemerintah Daerah setempat, dll).











Memeriksa secara periodik kondisi perlengkapan tanggap darurat dan memastikan kondisinya layak pakai dan siap untuk digunakan.







Bersama bagian terkait, melakukan investigasi penyebab kondisi darurat serta menentukan tindakan koreksi dan pencegahan yang diperlukan.







Bersama Koordinator UTD membuat laporan lengkap mengenai keadaan darurat: yang terjadi





3. Koordinator UTD 









bertanggung jawab untuk:








Memastikan kesiapan perlengkapan keadaan darurat dan evakuasi di semua area : Map jalur evakuasi, rambu penunjuk arah, Alat Pemadam Kebakaran, Instruksi Kerja Keadaan Darurat, dll.











Mengkoordinasikan proses evakuasi para pekerja bila terjadi keadaan darurat yang memiliki syarat mencukupi untuk dilakukannya evakuasi.







Mengevaluasi keadaan pasca evakuasi untuk memastikan efektivitas pelaksanaan proses evakuasi yang dijalankan.







Menyiapkan program / rencana pelatihan tanggap darurat, mengkoordinasikan pelatihan tentang simulasi keadaan darurat secara berkala dan mengevaluasi hasil pelatihan.











Semua Bagian bertanggung Jawab untuk :







Melaporkan segala potensi dan kejadian situasi darurat ke HSE





Mencegah potensi bahaya kebakaran dengan tidak menempatkan bahan-bahan yang mudah terbakar di dekat sumber panas/api atau tidak melakukan kegiatan yang menghasilkan panas/api didekat bahan-bahan yang mudah terbakar.











Tidak mengganggu atau merubah setiap perlengkapan tanggap darurat (Rambu, Penunjuk Arah, APAR, dll)







Mengikuti ketentuan, prosedur dan instruksi kerja (termasuk instruksi dilapangan) yang terkait dengan keadaan darurat.





VI PENJELASAN PROSEDUR







1. Umum










Perusahan menyediakan sarana-prasarana dan fasilitas-fasilitas keadaan darurat di tempat kerja seperti jalur evakuasi, sarana pemadam api, tempat aman berkumpul keadaan darurat serta sarana-sarana keselamatan lain yang diperlukan untuk menanggulangi keadaan darurat perusahaan. 















Perusahaan membentuk unit kerja khusus dalam manajemen perusahaan yang memiliki tugas khusus untuk menanggulangi keadaan darurat perusahaan yang disebut Unit Tanggap Darurat Perusahaan. 











Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja bersama Unit Tanggap Darurat Perusahaan secara berkala membahas pemeliharaan kesiapan, keefektifitasan dan pengembangan perencanaan antisipasi tanggap darurat perusahaan. Seluruh hasil pertemuan didokumentasikan oleh Sekretaris Panitia P2K3.













2. Kondisi Darurat










Kondisi darurat di perusahaan yang teridentifikasi dan diatur kesiapsiagaannya dalam prosedur ini adalah: 







1.    Kebakaran dan Ledakan 








2.    Tumpahan Bahan Kimia








3.    Ancaman Bom









4.    Kerusuhan Masa









5.    Gempa Bumi









6.    Banjir








3. Unit Tanggap Darurat Perusahaan








Perusahaan membentuk unit kerja khusus dalam manajemen perusahaan yang memiliki tugas khusus untuk menanggulangi keadaan darurat perusahaan yang disebut Unit Tanggap Darurat Perusahaan. Unit terdiri atas pimpinan, koordinator UTD, external communication, tim operasi tanggap darurat yang terdiri dari tim damkar dan tim isolasi, serta tim support yang terdiri dari tim evakuasi, tim P3K dan tim keamanan logistik.

















4. Tugas dan fungsi Unit Tanggap Darurat Perusahaan antara lain :




Melaksanakan penanggulangan keadaan darurat Perusahaan sesuai dengan fungsi masing-masing regu/anggota.







Melaksanakan pelatihan/simulasi/pengujian rutin secara bersama-sama seluruh tenaga kerja di tempat kerja dalam menanggulangi keadaan darurat Perusahaan.







Melaksanakan pertemuan rutin minimal 1 (satu) kali dalam 6 bulan atau pertemuan  non-rutin bila diperlukan untuk meningkatkan kinerja dan efektivitas Unit Tanggap Darurat Perusahaan.











Peran, Wewenang dan Tanggung Jawab Unit Tanggap Darurat Perusahaan :


VII PERAN WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB





1. Pimpinan










Menentukan dan memutuskan keadaan darurat perusahaan





Menentukan Kebijakan Tanggap Darurat Perusahaan.






Mengajukan anggaran dana yang berkaitan dengan sarana dan prasarana tanggap darurat Perusahaan.







Mengundang partisipasi seluruh karyawan untuk melangsungkan latihan tanggap darurat di lingkungan Perusahaan.







Menjadwalkan pertemuan








Menyusun perencanaan pemulihan keadaan darurat perusahaan.



2. Koordinator










Memimpin proses tanggap darurat di lapangan 






Melaporkan kondisi aman setelah kejadian darurat kepada pimpinan




Memantau perkembangan penanganan kondisi darurat dan menjembatani komunikasi antar regu Unit Tanggap Darurat.







Memastikan alur komunikasi antar regu Unit Tanggap Darurat dapat berjalan dengan baik dan lancar







Melakukan pemantauan kebutuhan dan perawatan sarana dan prasarana tanggap darurat Perusahaan.







Melaksanakan kerja sama dengan pihak terkait yang berkaitan dengan tanggap darurat Perusahaan.







Membuat laporan kinerja Unit Tanggap Darurat.






Membantu tugas-tugas ketua apabila pimpinan berhalangan.



3. Koordinator Tim Operasi









Memberikan komando pergerakan  kepada tim dibawahnya berdasarkan pengamatan kondisi terakhir dan instruksi dari koordinator UTD







Mengatur koordinasi antara tim pemadam kebakaran dan tim isolasi dalam operasi tanggap darurat







Menganalisa dan melaporkan perkembangan pencapaian operasi damkar kepada koordinator UTD





4. Tim Pemadam Kebakaran








Melangsungkan pemadaman kebakaran menggunakan semua sarana pemadam api di lingkungan Perusahaan secara aman, selamat dan efektif.







Melaporkan segala kekurangan/kerusakan sarana dan prasarana pemadam api di lingkungan Perusahaan kepada Koordinator Tim Operasi





5. Tim Isolasi










Melakukan tindakan-tindakan isolasi atas sumber-sumber energi potensial dan proses untuk pengamanan dan pencegahan ekskalasi kerugian dan bahaya 





6. Koordinator Tim Support









Mengatur pergerakan tim yang ada dibawahnya






Melakukan head count keseluruhan dan melaporkan kepada koordinator UTD




Memimpin tindakan pencarian atas instruksi dari koordinator UTD





Menjalankan instruksi lanjutan dari koordinator UTD




7. Regu Evakuasi










Memimpin proses evakuasi secara aman, selamat dan cepat.





Melaporkan adanya korban tertinggal, terjebak ataupun terluka kepada Koordinator tim support.







Melakukan dan melaporkan head count  atas personil yang menjadi tanggung jawab wilayahnya





8. Regu P3K










Melaksanakan tindakan P3K.








Menentukan tindakan medis lanjut pihak ke tiga di luar perusahaan atas korban kejadian dan melaporkan ke koordinator tim support.





9. Logistik dan Keamanan









Mengakomodasi kebutuhan umum tanggap darurat (makanan, minuman, pakaian, selimut, pakaian, dsb).







Mengakomodasi sarana transportasi darurat dari dalam/luar lingkungan Perusahaan.



Melaksanakan pengamanan internal dan eksternal selama keadaan darurat


10. Komunikasi Eksternal









Berkoordinasi dengan koordinator memantau seluruh informasi untuk mempersiapkan bantuan eksternal







Otoritas tunggal  untuk mengakomodasi informasi/pemberitaan untuk pihak luar.



Menghubungi pihak eksternal terkait untuk kepentingan tanggap darurat 


11. Penentuan Kondisi Darurat Perusahaan







Kondisi darurat perusahaan ditetapkan oleh pimpinan UTD atau penggantinya sesuai ketetapan. Deklarasi pernyataan kondisi darurat dilakukan sebagai berikut :




















Pemberlakuan keadaan darurat dinyatakan dengan pernyataan deklarasi keadaan darurat dan pengaktifan tim UTD







Pencabutan keadaan darurat dinyatakan dengan pernyataan “all clear - all clear - all clear” dan pe-nonaktifan tim UTD


















12. Sistem Komunikasi Darurat








Komunikasi yang baik dan efektif sangat penting untuk reaksi yang cepat terhadap keadaan darurat. Komunikasi berlangsung dua arah antara unit  UTD dan pekerja secara sequential bermula dari adanya inisiasi pemberlakuan keadaan darurat, proses penanganan dan operasi tanggap darurat hingga fase pemulihan dan kembali normal.













13. Komunikasi di Lapangan









Fasilitas-fasilitas yang digunakan untuk melaporkan dan menjaga agar komunikasi tetap terpelihara selama keadaan darurat adalah dengan menggunakan telepon jaringan dalam pabrik (PABX), Hand Phone dan radio tangan (handy talkie). 











Informasi tentang sistim komunikasi harus selalu ditinjau ulang dan diperbaharui sesuai keperluan atau paling tidak satu kali dalam setahun harus diperbaharui oleh Koordinator UTD. 











Revisi-revisi tersebut akan dibagikan kepada semua karyawan yang berkepentingan.



Daftar telepon yang terbaru (Telephone Directory) harus selalu tersedia pada setiap ruang,  serta di tempatkan / dipasang pada lokasi — lokasi kritis di lapangan. 







Dalam hal terjadi keadaan darurat, pemakaian saluran radio HSE hanya diperuntukkan  untuk komunikasi yang berhubungan dengan keadaan darurat. Komunikasi yang berhubungan dengan keadaan darurat hanya boleh dilakukan apabila ada instruksi dan petugas yang berwenang saja. 













14. Batasan dalam berkomunikasi








Dalam keadaan darurat perusahaan, seluruh personil perusahaan DILARANG KERAS untuk mengeluarkan pernyataan apapun, baik secara internal maupun eksternal sehubungan dengan masalah keadaan darurat yang terjadit; termasuk dalam hal ini adalah juga memanggil perwakilan-perwakilan dan luar / pihak ketiga dan orang-orang lain. Hal ini diperlukan untuk menghindari informasi yang salah yang dapat berakibat kesalahan pada penanganan lanjut yang harus dilakukan. Batasan komunikasi ini termasuk di dalamnya adalah transmittal gambar / foto / berita pada media sosial online.





























15. Distribusi informasi 









Otoritas dalam menyampaikan informasi eksternal ditentukan sebagai berikut :



Eksternal perusahaan dalam lingkup manajemen perusahaan dan grup: otoritas tunggal ada pada pimpinan UTD dalam hal ini adalah Factory Manager atau Deputynya.







Eksternal Perusahaan untuk keperluan lain : otoritas tunggal ada pada petugas external communication yang sudah ditetapkan , dalam hal ini adalah HRGA Manager atau petugas penggantinya yang ditunjuk oleh Factory Manager bila manager HRGA berhalangan.









16. Pemeliharaan Perlengkapan Penanggulangan Keadaan Darurat




Seluruh peralatan penanggulangan keadaan darurat dan perlengkapannya harus diinventarisir dan dipelihara agar selalu siap untuk dipergunakan sesuai rencana yang ditetapkan dan dicatat kinerja pemeliharaannya.









17. Perlengkapan Pendeteksi dan Pemadam Kebakaran






Inventarisir peralatan pemadam kebakaran berupa APAR, hydrant, smoke detector, serta heat detector dilakukan oleh HSE minimal 1 (satu) tahun sekali, kemudian direkam dalam formulir yang telah disediakan. Pemeriksaan dan Perawatan terhadap APAR dan hydrant dilakukan setiap 1 (satu) bulan sekali, yang dilakukan oleh HSE. 




























Pemeriksaan dan perawatan smoke detector dan heat detector dilakukan 1 (satu) tahun sekali, kemudian direkam dalam formulir yang telah disediakan.







Setiap APAR dan Hydrant harus bebas setiap saat dari barang atau benda yang dapat menghalangi atau mengganggu akses.







Petunjuk pemakaian alat juga harus dipastikan terpajang di tempat APAR & Hydrant atau pada tabungnya. Serta dipastikan dapat dibaca dengan jelas.


















18. Perlengkapan Penanggulangan Tumpahan Bahan Kimia





Perawatan terhadap peralatan tumpahan atau bocoran bahan kimia dilakukan oleh setiap Departemen terkait dengan koordinasi oleh Ahli K3 Kimia perusahaan.





19. Perlengkapan P3K 









Supervisor area terkait memastikan kelengkapan isi kotak P3K sesuai dengan ketentuan, dan kotak P3K dapat diakses oleh semua personel diarea tersebut.





20. Rambu-rambu, Map Evakuasi, Jalur Evakuasi dan Assembly Point




HSE  melakukan pemeriksaan melalui inspeksi berkala untuk memastikan bahwa:



Rambu-rambu terkait dengan Keadaan Darurat dapat terlihat dengan jelas oleh personel diarea terkait. 







Map Evakuasi terpajang di area terkait yang menunjukan jalur keluar yang terdekat menuju assembly point.







Jalur evakuasi bebas dari benda atau barang yang dapat menghalangi atau mengganggu akses selama evakuasi.







Marka jalur evakuasi terlihat dengan jelas.



Area Assembly point bebas setiap saat dari barang atau benda yang dapat mengganggu atau menghalangi proses assembly (seperti tumpukan barang, parkir kendaraan dll).









21. Pelatihan Keadaan Darurat








Sistem Penanggulangan dan Kesiagaan Keadaan Darurat secara periodik perlu diuji untuk membuktikan efisiensi dan efektifitasnya. Latihan keadaan bahaya perlu dilakukan untuk menguji kinerja peralatan, komunikasi dan system evakuasi yang ditetapkan.















HSE dan Kordinator UTD menyusun program pelatihan  tanggap darurat dan skenario simulasi keadaan darurat.







Pelaksanaan latihan atau simulasi keadaan darurat dilaksanakan minimal 2 (dua) kali dalam satu tahun dan diikuti oleh seluruh pekerja.







Efektivitas latihan keadaan darurat dievaluasi meliputi: 







Waktu tanggap (response time)









Keberhasilan skenario penanganan oleh tim UTD







Kesesuaian dan efektifitas prosedur tanggap darurat, faktor peralatan.


22. Penanganan Keadaan Darurat








Penanganan keadaan darurat dilakukan sesuai dengan Instruksi Kerja Operasi Tanggap Darurat





23. Tahap Pemulihan









Apabila kondisi darurat sudah teratasi dan telah dilakukan pencabutan kondisi darurat oleh pimpinan UTD, maka Koordinator UTD akan memberikan rekomendasi atas status lokasi kejadian sudah aman atau tidak untuk dimasuki kembali untuk aktivitas normal dengan mempertimbangkan hasil pemeriksaan tim UTD.















Pimpinan UTD dalam tahapan ini bewenang untuk :



















Menentukan apakah pekerjaan normal dapat dilakukan atau tidak pada lokasi kejadian darurat







Membentuk tim untuk melakukan proses investigasi,  pendataan semua kerugian / korban yang ada. Proses investigasi dilakukan sesuai SOP Pelaporan dan Investigasi Insiden











Mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengaktifkan kembali kegiatan perusahaan.




Posting Komentar untuk "PROSEDUR SIMULASI TANGGAP DARURAT"