Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kondisi Kereta Api Indonesia 2

 


Kereta api merupakan salah satu transportasi massal , tujuan adanya kereta api adalah untuk memperlancar perpindahan orang atau barang secara massal. Dengan demikian, fungsi perkeretaapian  untuk pelayanan umum kepada masyarakat. Akan tetapi masih banyak permasalahan ataupun tantangan yang masih dihadapi perkeretaapaian. Keseimbangan dalam kepentingan umum, berarti pelayanan tidak hanya memperhatikan kepentingan komersial, ataupun hanya melayani sebagian golongan masyarakat tertentu saja, tetapi juga bagi pelayanan umum dan semua golongan masyarakat. Ada 4 pilar utama perkretaapian yaitu  : keselamatan, ketepatan waktu, pelayanan dan kenyamanan.

Ada beberapa produk-nya :

1.    Kereta Api (KA) Penumpang, yang terbagi menjadi 3 kelas ( Eksekutif, Bisnis dan Ekonomi).

2.    Kereta Wisata, untuk menunjang kepariwisataan, PT. Kereta Api (Persero) memberikan pelayanan carter kereta khusus wisata juga berbagai keperluan seperti : rapat, pesta pernikahan, ulang tahun, dsb di atas Kereta Api menuju berbagai kota tujuan.

3.    Kereta Barang, Kereta api khusus yang disesuaikan dengan spesifikasi produk, yang mana PT. Kereta Api (Persero) memiliki gerbong yang digunakan untuk batu bara, pulp, Crude Pal oil, BBM, Peti Kemas, Parcel BHP, Over Night Service, Semen.

4.    Pengusahaan Aset , Disamping Angkutan Penumpang dan Angkutan Barang, PT. Kereta Api (Persero) juga memberdayakan aset non produksi untuk dikomersialkan ke pihak eksternal. Beberapa produk persewaan aset non produksi.

Kondisi Kereta Api Indonesia ini mengalami suatu siklus penurunan. Walaupun beberapa lokomotif kereta sudah dikatakan modern, tapi sistem manajerisasi kereta api masih sangat buruk. Ini terlihat dari pengelolaan kereta api yang tidak maksimal. Ada banyak lokomotiv yang tidak terawat, gerbong kereta yang begitu kotor dan tidak layak pakai, hingga kondisi rel yang memprihatinkan. Pelayanan publik juga masih kurang professional, ini terlihat dari ketidakmampuan PT. KAI mengatasi pembludakan penumpang yang terjadi setiap harinya. PT. KAI belum mampu menjadi fasilisator bagi masyarakat dalam transportasi umum. Seharusnya PT. KAI harus menemukan solusi terhadap pembludakan itu yang bisa berakibat kecelakaan atau kematian, jika muatan kereta api yang melebihi batas normal hingga banyaknya penumpang yang naik di atap Kereta Api. Bagaimanapun perkeretaapian di Indonesia masih harus dikembangkan di masa-masa mendatang, baik untuk angkutan jarak jauh maupun di tingkat lokal. Namun demikian yang menjadi permasalahan yang cukup mengganggu perkeretaapian saat ini adalah tingginya tingkat kecelakaan.

Cukup tingginya korban jiwa dan kerugian sosial ekonomi akibat kecelakaan KA telah menyebabkan citra pelayanan dan manajemen perkeretaapian menurun. Kinerja keselamatan semakin menjadi tuntutan dan perhatian sehingga perlu segera ditingkatkan. Penyebab tingginya kecelakaan kereta api merupakan akumulasi dari banyak faktor, diantaranya masalah regulasi, manajemen, kondisi prasarana & sarana. Sarana kereta api meliputi lokomotif, kereta, gerbong, KRL, dan KRD. Prasarana jalan rel yang ada saat ini pada umumnya masih jalur tunggal. Jalur ganda baru tersedia di jalur Jakarta-Cikampek, Jakarta-Bogor, Padalarang-Bandung, dan Surabaya kota-Wonokromo. Jalur rel yang ada memiliki beban gandar antara 9 s.d. 18 ton yang mampu mendukung kecepatan kereta api antara 60-110 km/jam. Panjang rel di Jawa yang masih dioperasikan sepanjang 3.216 km dan di Sumatera sepanjang 1.348 km. Sebagian dari jalur tersebut kondisinya sudah kurang layak operasi sehingga sangat rawan terhadap kecelakaan. Dalam rangka menekan angka kecelakaan kereta api, masalah faktor keselamatan KA pada prioritas tertinggi, dengan menetapkan peningkatan keselamatan ada empat strategi sebagai berikut:

1.    Mengurangi frekuensi kecelakaan KA dengan mempertahankan kualitas prasarana dan sarana, serta kualitas SDM terkait.

2.    Penertiban penumpang di atas atap KA melalui law enforcement dan sterilisasi stasiun.

3.    Penerapan No Go Item secara tegas.

4.    Sosialisasi budaya keselamatan.

Posting Komentar untuk "Kondisi Kereta Api Indonesia 2"