WAKTU PENGIKATAN SEMEN CARA LABORATORIUM

      

Hai. Teman semuanya apakabar hari ini kita bahas mengenai praktikum bahan bangunan atau juga kita gunakan pada praktikum teknologi beton yah tergantung dengan universitas masing-masing ya teman-teman,,, Nah sebelum itu kita harus tau dulu beberapa landasan teori yang mebahas menganai paraktikum ini...!nanti teman bisa minta file lengkapnya loh,.,.,

 Pratikum ini bertujuan agar dapat menentukan kapan waktu pengikatan awal semen terjadi. Setelah pratikum ini diharapkan mahasiswa dapat : Terampil dalam mengunakan peralatan pemeriksaan waktu pengikatan semen Portland, Menentukan waktu pengikatan awal semen portland , Semen setelah bercampur dengan air akan mengalami pengikatan, dan setelah mengikat lalu mengeras. Lamanya pengikatan sangat tergantung dari komposisi senyawa dalam semen dan suhu udara sekitarnya. Waktu pengikatan pada pasta semen ada 2 (dua) macam, yaitu waktu ikat awal (setting time) dan waktu ikat akhir (final setting). Waktu ikat awal adalah waktu yang dibutuhkan sejak semen bercampur dengan air dari kondisi plastis menjadi tidak plastis, sedangkan waktu ikat akhir adalah waktu yang dibutuhkan sejak semen bercampur dengan air dari kondisi plastis menjadi “keras”. Yang dimaksud dengan keras pada waktu ikat akhir adalah hanya bentuknya saja yang sudah kaku, tetapi pasta semen tersebut belum boleh dibebani, baik oleh berat sendiri maupun beban dari luar. Waktu ikat awal menurut standar SII minimum 45 menit, sedangkan waktu ikat akhir maksimum 360 menit. Waktu ikat awal tercapai apabila masuknya jarum vicat ke dalam sampel dalam waktu 30 detik sedalam 25 mm. Waktu ikat akhir tercapai apabila pada saat jarum vicat diletakkan diatas sampel selama 30 detik, pada permukaan sampel tidak berbekas atau tidak tercetak. Catat berapa jam waktu ikat akhir tercapai. Dalam pengujian waktu ikat pada semen kadang – kadang dalam waktu kurang dari 10 menit, semen sudah mencapai waktu ikat awal, yang ditandai dengan masuknya jarum vicat kurang dari 25 mm. Waktu ikat awal tersebut bukanlah waktu ikat awal yang sebenarnya, tetapi waktu ikat awal palsu (false setting). Ini terjadi karena gips alam yang terdapat dalam semen berubah menjadi gips hemihidrat karena panas, baik panas pada waktu dicampur dengan klinker maupun panas pada saat penyimpanan, akibatnya gips alam yang asalnya stabil menjadi tidak stabil sehingga cepat bereaksi dengan air, C3A akan bereaksi paling cepat menghasilkan 3CaO.2SiO2.3H2O senyawa ini membentuk gel yang bersifat cepat set (kaku) sehingga ia akan mengontrol sifat setting time. Tetapi 3CaO.2SiO2.3H2O akan bereaksi dengan gypsum yang segera membentuk etteringite yang akan membungkus permukaan 3CaO.2SiO2.3H2O dan 3CaO.Al2O3, sehingga reaksi hidrasi dari 3CaO.Al2O3 akan dihalangi dan proses setting akan dicegah. Namum demikian lapisan etteringite pembungkus tersebut karena suatu fenomena osmosis, ia pecah, dan reaksi hidrasi C3A akan terjadi lagi. Tetapi segera pula akan terbentuk etteringite baru yang akan membungkus 3CaO.Al2O3 kembali. Proses ini akhirnya menghasilkan setting time. Makin banyak etteringite yang terbentuk, maka setting time akan makin panjang. Oleh karena itulah gypsum dikenal sebagai retarder. Dengan adanya gypsum, proses hidrasi di samping menghasilkan cement gel juga terbentuk etteringite. Mekanisme proses setting (pengikatan) dan hardening (pengerasan) ditunjukkan pada gambar 2.

        Pada awal mula reaksi hidrasi tersebut akan menghasilkan pengendapan Ca(OH)2, etteringite dan C-S-H akan membentuk coating pada partikel sermen serta etteringite akan membentuk coating pada 3CaO.Al2O3. hal ini akan mengakibatkan reaksi hidrasi akan tertahan, periode ini disebut induction periode atau resting periode atau dormant periode. Ini terjadi pada 1-2 jam dan selama itu pasata masih dalam keadaan plastis dan workable. Periode ini berakhir dengan pecahnya coating tersebut dan segera reaksi hidrasi terjadi kembali dan initial set segera tercapai. Selama periode beberapa jam, reaksi hidrasi dari 3CaO.SiO2 terjadi dan menghasilkan C-H-S dengan volume lebih dari dua kali volume semen. C-H-S ini akan megisi rongga dan membentuk titik kontak yang menghasilkan kekakuan. Pada tahap berikutnya terjadi konsentrasi dari C-H-S dan konsentrasi dari titik-titik kontak yang akan menghalangi mobilitas partikel-partikel semen yang akhirnya pasta menjadi kaku dan final setting dicapai dan proses pengerasan pun mulai terjadi secara steady.

        Sifat set (pengikatan) pada adonan semen dengan air adalah dimaksudkan sebagai gejala terjadinya kekakuan pada adonan tersebut. Dalam prakteknya, sifat set ini ditunjukkan dengan waktu pengikatan (setting time) yaitu waktu mulai dari adonan terjadi sampai mulai terjadi kekakuan. Dikenal ada dua macam setting time, yaitu: Initial setting time (waktu pengikatan awal) ialah waktu mulai adonan terjadi sampai mulai terjadi kekakuan tertentu dimana adonan sudah mulai tidak workable.  Final setting time (waktu pengikatan akhir) ialah waktu mulai adonan terjadi sampai terjadi kekakuan penuh. Pada umumnya setting time dipengaruhi beberapa hal berikut:  Kandungan C3A Makin besar kandungan C3A cenderung akan menghasilkan setting time yang makin pendek.  Kandungan gypsum (CaSO4.2H2O) Makin besar kandungan CaSO4.2H2O di dalam semen, menghasilkan setting time yang makin panjang.  Kehalusan Makin halus partikel-partikel semen akan cenderung menghasilkan setting time yang makin pendek. Peralatan yang digunakan Alat vikat lengkap dengan jarum Ø 1 mm, Gelas ukur, Timbangan , Ring konus dan plat kaca, Spatula, Wash bottle, Stopwath, Mesin pengaduk (mixer), Bahan Air bersihM Semen Portland. PROSEDUR PELAKSANAAN Menimbang semen sebanyak 450 gram yang sebelumnya telah diayak dengan saringan 200. Dan air sebanyak konsisten normal. Masukan semen dalam tromol mesin pengaduk 450gr dan juga air biarkan selama 30 detik. Jalankan mesin pengaduk dengan kecepatan 140± 5 RPM selama 30 detik. Hentikan mesin pengaduk selama 15detik. Sementara itu bersihkan pasta yang menempel pada dinding tromol Jalankan mesin pengaduk dengan kecepatan 280 ± 5 RPM selama semenit. Ambil pasta semen tersebut sebesaran kepalan tangan dan bentuk seperti bola kemudian lemparkan dengan satu tangan ketangan lainnya sebanyak 6 kali sejarak 15cm dan tangan dibungkus dengan sarung tangan karet. Masukan bola pasta semen tersebut kedalam cincin konus sampai penuh yang terlebih dahulu ring konus dialas dengan plat kaca. Masukan pasta semen melalui diameter cincin terbesar dan ratakan permukaannya dengan mengunakan spatula. Tutup cincin konus dengan plat kaca yang lain dan balikan cincin tersebut. Kemudian lepaskan plat kaca yang pertama .ratakan kembali permukan pasta dengan spatula. Letakan cincin konus pada tempat yang terhindar dari suhu panas,getaran, dan hembusan angin dan biarkan selama 30detik. Letakan cincin konus yang berisi pasta semen tadi dibawah jarum kebagian tengah permukaan pasta dan kemudian jarum dikunci, baca skala dan catat. Lepaskan kunci tongkat vikat dan catat penurunan yang berlangsung selama 30detik. Ikatan awal dinyatakan terjadi apabila dalam waktu 30detik tersebut mengalami penurunan 25±1mm.

Wah udah selesai ya kalau teman-teman mau minta contoh laporan lengkapnya beserta formatnya dapat kirim email ke kita ya dengan format nama/jurusan/universitas/judulnya, nanti akan kirim via email semoga bermanfaat yaa,..,.,


Post a Comment

0 Comments