salah jurusan, Siapa sangka sarjana?



wahhhhhh.,,,, ada cerita baru nih untuk edisi cerita mahasiswa teknik, admin baru dapat kiriman cerita dari pengalama pribadi teman dekat dikampus, sebut saja namanya MR. Ir. firdaus, bagaimana pengalam nya ? selamat membaca ya teman-teman.,.,

Siapa sangka telah bergelar sarjana?, tentu saja awal kalimat yang mengejutkan dari sebuah cerita non fiksi yang tertulis rapi ini. Hai, nama saya sebut saja Ir. firdaus , seorang engineer muda yang masih berusaha keras mengejar gelar PRO pada kata sebelum engineer. Masih berjuang dengan sangat keras agar dapat diakui ahli dalam pekerjaan. Masih berjuang keras agar dapat sukses dan diatas rata-rata. Sekarang berumur 24 tahun dan belum menikah. Saya akan menceritakan  kisah hidup, kilas balik selama 6 tahun ke belakang pada saat tepat berumur 18 tahun. Ya, masa sebelum saya memutuskan hal besar dan sangat berpengaruh bagi karir dan hidup saya, tentang “ingin kuliah dimana?, ingin ambil jurusan apa?”.

Teknik sipil Universitas bengkulu menjadi salah satu dari 3 pilihan SBMPTN yang ada, dan diletakkan pada posisi pertama pada ketiga pilihan yang seolah-olah sangat diprioritsakan, benarkah? Haha, tentunya hal bodoh terjadi sebelum itu, saya yang tidak memiliki tempat bertanya dan malas membaca ini tentu sangat tidak tahu bahwa pilihan pertama adalah pilihan yang sangat di prioritaskan, dan TEKNIK SIPIL tentunya bukan tujuan utama saya yang sebenarnya. Itu hanyalah sebuah pilihan pemanis yang pada dasarnya saya tidak tau mau memilih apa lagi. Hingga singkat cerita akhirnya saya lulus dan bergabung dengan keluarga besar HMTS UNIB pada tahun 2014 dan memulai awal baru.

Masuk ke jurusan yang tidak terlalu diminati memiliki sensasi tersendiri, dari rasa malas mengerjakan tugas hingga rasa ingin pindah jurusan tentunya menghantui setiap hari pada awal perkuliahan. Teknik sipil buakanlah jurusan gampang dan mudah dipahami, butuh keseriusan yang tinggi dan menguras tenaga lebih. Rasa tidak perduli tentunya  dapat menutup mata hati dan telinga sehingga materi yang diajarkan tidak akan masuk kekepala dan mengerti dengan sempurna, hingga pada semester 1 yang saya harus pelajari dalam diri saya adalah rasa bersyukur dan menangguhkan diri.  Butuh waktu lama untuk beradaptasi dari tugas yang banyak, praktikum yang menghabiskan tenaga dan waktu, kajian kajian ilmiah, logika dan segala macam sumpah serapah harus tetap dilalui meskipun setengah hati. Berlatar belakang pendidikan madrasah dan memilih kelas IPA pada saat SMA tentunya sangat membantu saya melewati semuanya dan meskipun dengan banyaknya Air mata, semester 1 saya akhiri dengan sempurna dengan IPK diatas rata-rata.

Tentunya semester 1 bukanlah semnester yang mudah, namun bukan juga semester yang sulit, pengalaman pada semester 1 ternyata tidak dapat saya terapkan pada pembelajaran semester 2. Beberapa dosen yang katanya KILLER mulai bermunculan di semester 2. Tugas dan mata pelajaran mulai serius. Ilmu ukur, teknologi beton, portal hingga lingkungan dipelajari pada semester ini. Semuanya membuat saya ingin benar benar menyerah dan pengen nikah aja. Dukungan keluarga dan teman-teman yang seperti keluarga tentunya membuat saya kuat menjalani semester ini meskipun dengan IP yang apa adanya. Dan yang benar saja, semester 3 ternyata jauh lebih gila, keadaan yang ingin sekali rasanya saya ulangi waktu dan membuang jauh jauh pilihan teknik sipil ini kelaut lepas saja. Namun lagi lagi saya dapat menyelesaikan semester ini dengan dukungan dari yang lainnya.

Semester 4 adalah semester yang membuat saya benar-benar ingin berubah dan benar-benar ingin menerima teknik sipil dengan sepenuh hati. Pada semester ini saya benar benar mencari tokoh teknik sipil yang dapat saya jadikan motivasi dan tujuan hidup. Bergabung dengan beberapa komunitas di facebook tentang ketekniksipilan. Menata hidup dan membagi waktu dengan benar serta berhenti menyesali semua ketidaksengajaan-ketidaksengajaan yang terjadi sebelumnya. Dan semester 4 memberikan saya jalan yang sangat terang dan memantapkan hati saya untuk menjadi sarjana teknik sipil, dan akhirnya saya menyelesaikan setiap semester dengan hati tenang dan tidak terlalu memiliki masalah yang serius pada semester semester selanjutnya.

Saya berhasil mendapatkan gelar sarjana teknik sipil pada tanggal 10 mei 2019. Iya, saya membutuhkan 10 semester untuk membuat semua itu terjadi, dan tidak menyesal sama sekali. Dengan nada sorak bahagia para keluarga teknik sipil universitas bengkulu mengantarkan saya dan teman-teman ke panggung wisuda, disambut dan dilepaskan dengan meriah. Kami berbagi kebahagiaan pada saat itu. Tidak ada alasan yang membuat saya menyesal menjadi bagian. Tidak ada alasan meski seujung jarum terkecil pun.

Tidak ada jurusan yang sulit selagi kita dapat menerimanya dengan lapang dada, mengerjakan dengan sepenuh hati, menjalankan tanpa rasa bingung, rasa takut bahwa kelak mau jadi apa. Tidak ada manusia yang diletakkan pada jalur yang salah, amanat selalu memilih pundak yang tepat. Selama ada tekat, setiap cita cita akan selalu bermartabat. Selama ada usaha, mekanika rekayasa bukan apa-apa. saya adalah salah satu produk yang dimulai dari JURUSAN YANG SALAH.


(menarik kan ceritanya, semoga memotivasi teman-teman semua ya..)

Post a Comment

0 Comments