PENENTUAN SLUMP BETON

Hai. Teman semuanya apakabar hari ini kita bahas mengenai praktikum bahan bangunan atau juga kita gunakan pada praktikum teknologi beton yah tergantung dengan universitas masing-masing ya teman-teman,,, Nah sebelum itu kita harus tau dulu beberapa landasan teori yang mebahas menganai paraktikum ini...!nanti teman bisa minta file lengkapnya loh,.,.,


        Pengujian slump adalah cara pengujian beton segar yang paling populer dilakukan, yang dikembangkan oleh Champman tahun 1913 di USA. Cara ini cocok digunakan untuk menentukan perbedaan-perbedaan dalam pekerjaan beton yang sedang diperiksa. Kepekaan serta kebenaran percobaan untuk menilai variasi-variasi dalam campuran dengan sifat pengerjaan yang berbeda-beda terutama tergantung kepada kepekaannya terhadap konsistensi campuran beton yang sedang diperiksa. Pada dasarnya, ada 3 macam bentuk slump yang akan terjadi, antara lain yaitu:  Slump sejati Nilai slump sejati < 7.5 cm. Apabila dalam percobaan terjadi slump sejati maka adukan beton harus ditambah air.  Slump plastis (geser) Slump plastis merupakan bentuk slump yang paling baik dimana nilai slumpnya berkisar antara 7.5 cm – 15 cm .  Slump Encer (runtuh) Nilai slump runtuh > 15 cm, apabila terjadi slump runtuh   maka adukan beton harus ditunggu/didiamkan untuk beberapa menit. Pada dasarnya mutu beton tergantung pada sifat dan karakteristik bahan pembentuknya, cara pengerjaannya dan kondisi lingkungan sekitarnya terutama faktor suhu ketika beton itu dikerjakan. Dalam hal pengerjaan beton,faktor pengadukan beton menjadi salah satu kegiatan yang penting terutama untuk jenis beton struktural yang harus direncanakan dan dikerjakan untuk memenuhi kekentalan (konsistensi) dari adukan, kekuatan dan ketahanan (durabilitas) betonnya. (R.Segel, 1993;Soetjipto, 1987 dan LJ.Murdock, 1981).
        Untuk mendapatkan hasil adukan yang baik, maka pengadukan beton haruslah dilakukan dengan mesin pengaduk supaya proses penyatuannya (homogenitas) dapat lebih baik dan cepat. Lama waktu pengadukan tergantung pada kapasitas dari drum pengaduk, yaitu banyaknya bahan yang akan diaduk, jenis dan butiran agregat (gradasi), serta workabilitas adukannya. Dalam LJ.Murdock (1981) dikemukakan untuk volume adukan yang tertentu diperlukan lama waktu pengadukan sebagi berikut : ≤ 2 m³ 1½ menit, 2½ m³- 2 menit, 3 m3- 2½ menit, 5 m3- 3 menit. Sedang menurut ACI dan ASTM C.14 – 78a lama waktu pengadukan ditentukan sebagai berikut : 0,8 m3 - 1 menit, 1,5 m3  - 1¼ menit, 2,3 m3 - 1½ menit, 3,1 m3 -1¾ menit, 3,8 m3 - 2 menit, 4,6 m3 - 2¼ menit, 7,6 m3 - 3¼ menit. Didalam PBI 71-6.2.3. disebutkan lama waktu pengadukan paling sedikit 1½ menit, setelah semua bahan telah dimasukkan kedalam drum pengaduk, sementara oleh Soetjipto (1987), LJ.Murdock (1981) dan Sumardi (1998) menyatakan bahwa lama pengadukan tidak perlu lebih dari 2½ - 3½ menit.
        Pengeluaran air pada adukan beton disebabkan oleh pengeluaran air sebagian dari pasta semennya. Pasta semen merupakan larutan kental, yang labil oleh gravitasi (Soetjipto, 1987). Bila digunakan air adukan yang lebih banyak daripada yang digunakan untuk proses hidrasi dengan semen (pengikatan dan pengerasan) maka kelebihan air akan naik ke permukaan adukan beton dengan membawa butiran semen yang belum bereaksi secara sempurna dan kemudian membentuk lapisan yang lemah, serta berpori karena adanya lapisan buih/busa semen (laitance). Meskipun ukuran butiran semen bervariasi atau tidak seragam, tetapi karena adanya air kemudian menggumpal sehingga butiran akan turun dengan kecepatan yang relatif sama. Air bening yang bebas terlepas dari reaksi hidrasi dengan semen terdesak ke atas dan selain itu terdapat pula butiran semen yang bereaksi lambat ikut terbawa oleh air ke permukaan.  Jika proses pengeluaran air (bleeding) belum selesai, sementara pasta semennya lebih dulu mengeras, akan memungkinkan konsentrasi butiran semen yang tidak serba sama. Peralatanyang digunakan ,   Kerucut abram, Tongkat pemadat,  Mistar,  Sendok semen,  Bahan beton segar yang diambil langsung dari bak pengaduk dengan menggunakan peralatan yang tidak menyerap air. Sebelum diaduk lagi baru dimasukkan kedalam kerucut abram. PROSEDUR PELAKSANAAN Membasahi cetakan dan plat slump dengan kain lap yang basah.  Meletakkan kerucut abram pada plat slump.  Memasukkan adukan beton segar ke dalam kerucut abram dengan tiga lapisan yang kira-kira sama tebalnya. Setiap lapisan masing-masingnya ditumbuk dengan tongkat penumbuk Ø 16 - 60 cm sebanyak 10 kali. Dalam penusukan hanya boleh masuk kira-kira 25 mm pada lapisan bawahnya.  Meratakan permukaan adukan beton dan dibiarkan selama 1/2 menit. Kerucut dan alat slump dibersihkan dari jatuhan adukan semen.  Mengangkat kerucut secara konstan arah secara vertikal dan jangan sampai kerucut menyentuh beton.  Mengukur penurunan dari adukan beton (slump). Pengukuran dilakukan pada 4 titik yang kemudian hasilnya dirata-ratakan. Nilai slump diambil dari nilai rata-rata tadi.

Wah udah selesai ya kalau teman-teman mau minta contoh laporan lengkapnya beserta formatnya dapat kirim email ke kita ya dengan format nama/jurusan/universitas/judulnya, nanti akan kirim via email semoga bermanfaat yaa,..,.,


Post a Comment

0 Comments