PENENTUAN KEKEKALAN SEMEN CARA LABORATORIUM

PENENTUAN KEKEKALAN SEMEN CARA LABORATORIUM

( METODE CINCIN LIE CHATERLIER )

       

Pengujian sifat kekekalan semen erat hubungannya dengan pengawasan mutu dan kualitas semen pada pekerjaan struktur karena bila menggunakan semen yang tidak mempunyai kekekalan semen akan menimbulkan faktor – faktor kerusakan seperti terjadinya pengembangan pada beton sehingga beton akan retak – retak karena adanya pengaruh beban setempat.Bubur  semen yang dibuat dalam bentuk tertentu dan bentuknya tidak berubah pada waktu mengeras, maka semen tersebut mempunyai sifat kekal bentuk. Demikian juga sebaliknya jika bubur semen tersebut mengeras dan menunjukkan adanya cacat (retak, melengkung, membesar dan menyusut), berarti semen tersebut tidak mempunyai sifat kekal bentuk. Sifat kekal bentuk sangat dipengaruhi oleh kandungan senyawa C3A, karena kandungan C3A dalam jumlah tinggi menyebabkan bubur semen mengembang pada saat proses pengerasan karena dilepaskannya panas oleh senyawa tersebut. Nilai  dari  semen portland  sebagai  bahan  pengerasan  ditentukan  oleh  kelangsungan  terjadinya  reaksi kimia  antara  semen  dengan  air  secara  baik.  Pada  umumnya  dibutuhkan  sebanyak kira-kira 20% air dari berat semen yang dipakai agar semen itu dapat mengeras.  Pada reaksi antara semen dan air kita bedakan menjadi 2 (dua) periode yang berlainan periode  pengikatan  dan    periode  pengerasan.  Pengikatan  adalah  peralihan  dari keadaan  plastis  kedalam  keadaan  keras,  sedangkan  pengerasan  adalah  penambahan kekuatan setelah pengikatan itu selesai. Yang  harus  kita  perhatikan  adalah  awal  pengikatan,  yaitu  pada  saat  mulainya  semen menjadi  kaku,  saat  ini  ditentukan  dalam  jam  dan  menit  setelah  semen  itu  kita  aduk dengan air. Selanjutnya kita perhatikan waktu  pengikatan,  yaitu periode yang berlangsung antara permulaan semen menjadi kaku dan saat semen itu beralih kedalam keadaan keras/padat.  Keadaan ini dapat diartikan bahwa pasta semen telah menjadi keras, akan tetapi belum cukup  kuat.    Setelah  ini  pengerasan  berlangsung  terus  mula-mula  secara  cepat, kemudian lebih lambat. Semen sebagai bahan perekat pada beton harus kekal tidak boleh berubah bentuk, karena jika semen mengembang (tidak kekal) pada beton yang sudah mengeras, dalam beton timbul tegangan tarik, padahal tegangan tarik pada beton sangat kecil, akibatnya beton akan mengalami retak. Sifat mengembang pada semen disebabkan oleh bahan yang dikandung oleh semen itu sendiri dan factor dari luar. Dalam semen ada senyawa MgO dan CaO, apabila ke dua senyawa ini bereaksi dengan air akan terbentuk Ca(OH)2 dan Mg(OH)2 yang disertai dengan perubahan volume, dimana volumenya lebih besar dari asalnya. Reaksi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

                              CaO + H2O »»» Ca(OH)2 + panas + ΔV

                              MgO + H2O »»» Mg(OH)2 + panas + ΔV

        Perubahan volume pada kedua senyawa tersebut kejadiannya tidak bersamaan, pada CaO lebih cepat. Pada MgO memerlukan waktu yang lama. Inilah yang membahayakan, karena jika semen tersebut sudah menjadi struktur beton, maka struktur beton tersebut akan mengembang, sehingga dalam struktur tersebut timbul tegangan tarik yang mengakibatkan retak atau pecah. Mengembangnya semen akibat MgO dapat diuji dengan alat autoclave. Semen dinyatakan kekal jika diuji dengan autoclave perubahan bentuknya tidak melebihi 0.8%. sifat mengembang pada semen juga bias diakibatkan dari luar, seperti perubahan suhu yang tinggi, reaksi antara C3A dalam semen dengan sulfat dan lainnya. Peralatanyang digunakan dalam percobaan ini ,  Ring Lie Chaterlier Lengkap dengan 2 Plat Kaca dan Pemberat, Jangka Sorong, Spatula, Timbangan, Mesin Pengaduk ( Mixer ) , Water Bath, Bahan,  Air bersih,   Semen Portland. Prosedur Pelaksanaan dengan,  Menimbang semen sebanyak 100 gr dan air bersih sebanyak konsistensi normal,  Masukkan semen dan smeen kedalam tromol pengaduk biarkan selama 30 detik,  Jalankan mesin pengaduk dengan kecepatan 140 ± 5 RPM Selama 30 Detik.Hentikan mesin pengaduk selama 25 detik sementara itu bersihkan pasta yang menempel di dinding tromol.  Jalankan mesin pengaduk dengan kecepatan 285 ± 10 RPM selama 1 menit.6. Siapkan Cincin Lie Chaterlier dengan terlebih dahulu mengikat tangkai cincin dengan tali ( Bagian Pangkalnya ). Tujuannya adalah agar dalam pengisian pasta semen tidak terjadi pengemabangan volume ., Letakkan ring lie chaterlier tersebut diatas plat kaca,   Isi ring tersebut dengan pasta semen sampai rata, Chek bagian bawahnya dengan terlebih dahulu menutup bagian atas plat kaca lainnya. Isi sampai penuh dan tutup kembali dengan plat kaca, Beri isi pemberat diatasnya ( diatas ). Kemudian simpan ditempat yang lembab, Setelah 24 jam buka plat kaca dan buka tali ikatan pada tangkai cincin. Ukur dan catat antara kedua ujung tangkai cincin sebagai regangan awal, Kemudian cincin dimasukkan kedalam bejana atau water bath yang berisi air dingin kemudian diapanaskan, Setelah perebusan 3 jam lalu di dinginkan, dan ukur jarak antara ujung tangkai cincin dan catat sebagai regangan akhir. Pengambangan yang terjadi adalah selisih dari regangan akhir dan awal.

Post a Comment

0 Comments