PENENTUAN BOBOT ISI BETON

        Pengukuran bobot isi hampir sama halnya dengan pengukuran bobot isi dari agregat, dimana diperlukan suatu takaran. Dari sana dapat ditentukan apakah beton yang akan kita rancang bobot isinya memenuhi ketetapan. Dalam pengujian dilakukan penggetaran yang bertujuan untuk menghilangkan udara yang terserap diantara campuran. Sementara itu, beton sendiri berdasarkan bobot isinya dapat dibedakan atas 3 macam, antara lain yaitu : Beton ringan, obot isinya berkisar antara 0,6 - 1,8 T/m³, Beton biasa  Bobot isinya berkisar antara 1,8 - 2,9 T/m³, 3.      Beton berat Bobot isinya > 2,8 T/m³.  Adapun hal-hal yang mempengaruhi bobot isi beton antara lain adalah : Pemeriksaan bahan-bahan campuran beton seperti semen, pasir, kerikil dan terutama air, semakin teliti kita melakukannya, maka keadaan bahan-bahan campuran tersebut akan kita ketahui. Jenis agregat yang dipakai tergantung dari kehalusan butirannya, yang memiliki ukuran dan kehalusan butiran akan mengakibatkan perbedaan pada bobot isi. Pemadatan jangan berlebihan, bila pemadatan dilakukan dengan baik maka bobot isi akan sesuai dengan rencana. Bobot isi rencana dan bobot isi pemeriksaan, maka diadakan koreksi dengan mengalikan harga semula yang diperoleh dari perencanaan dengan suatu factor yaitu “ angka perbandingan berat jenis sama dengan berat jenis hasil pemeriksaan campuran dibagi dengan berat jenis semula”.  Apabila hasil bobot isi dalam percobaan lebih kecil dari bobot isi dalam mix design, maka kebutuhan bahan haruslah dikoreksi kembali, sehingga akan didapat kebutuhan bahan yang sebenarnya.
        Beton adalah suatu material heterogen yang sangat kompleks dimana reaksi terhadap tegangan tidak hanya tergantung dari reaksi komponen individu tetapi juga interaksi antar komponen. Kompleksitas interaksi diilustrasikan dalam gambar 2.4. dimana ditunjukkan kurva tegangan-regangan tertekan untuk beton dan mortar, pasta semen dan agregat kasar. Agregat kasar adalah suatu material getas elastis linier, dengan kekuatan signifikan diatas beton. Pasta semen mempunyai nilai modulus elastisitas rendah, tetapi kuat tekan lebih tinggi dibandingkan dengan mortar atau beton. Penambahan agregat halus ke pasta semen menjadi mortar mengakibatkan suatu peningkatan modulus elastisitas, tetapi mereduksi kekuatan. Penambahan agregat kasar ke mortar, dalam ilustrasi diatas, hanya sedikit mempengaruhi modulus elastisitas, tetapi mengakibatkan penambahan reduksi kuat tekan. Secara keseluruhan, perilaku beton adalah serupa dengan unsur pokok mortar, sedangkan perilaku mortar dan beton secara signifikan berbeda dari perilaku baik pasta semen atau agregat.  Peralatan Timbangan dengan ketelitian 0,3%, Tongkat pemadat Ø 16 mm dan panjang 60 cm, Takaran. Bahan Beton segar yang diambil langsung dari bak pengaduk dengan menggunakan peralatan yang tidak menyerap air. Sebelumnya diaduk dulu baru kemudian dimasukkan ke dalam literan. PROSEDUR PELAKSANAAN  Menimbang berat takaran yang akan digunakan sebagai W1 gram. Memasukkan adukan beton segar ke dalam takaran dalam dua lapisan yang kira-kira sama tebalnya. Setiap lapisan masing-masingnya ditumbuk dengan alat penumbuk sebanyak 15 kali. Dalam penusukan tongkat hanya boleh masuk kira-kira 25 mm pada lapisan bawahnya. engetuk-ngetuk sisi cetakan secara perlahan dengan palu kayu sampai tidak terlihat gelembung-gelembung udara pada permukaan beton serta rongga bekas tusukan tertutup kembali.Meratakan permukaan adukan beton dan kemudian menimbang takaran beton beserta isinya W2 gram.

Post a Comment

0 Comments