Tuesday, May 5, 2020

PENENTUAN BERAT JENIS SEMEN

 Hai. Teman semuanya apakabar hari ini kita bahas mengenai praktikum bahan bangunan atau juga kita gunakan pada praktikum teknologi beton yah tergantung dengan universitas masing-masing ya teman-teman,,, Nah sebelum itu kita harus tau dulu beberapa landasan teori yang mebahas menganai paraktikum ini...!nanti teman bisa minta file lengkapnya loh,.,.,


 

        TUJUAN Menentukan berat jenis semen, apakah semen tersebut masih berada dalam batas berat jenis semen yang di izinkan dalam pelaksanaan struktural dan pelaksanaan lainnya. Setelah melaksanakan praktikum ini mahasiswa dapat : Terampil dalam menggunakan alat pengujian berat jenis semen, Menentukan berat jenis semen secara laboratorium maupun secara lapangan dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi berat jenis semen tersebut., Menentukan apakah semen tersebut masih layak di gunakan untuk struktural atau tidak. Semen Portland merupakan salah satu bahan perekat hidrolis yangdibuat   dari   campuran   bahan   yang   mengandung   oksida   utama   yaitu kalsium, silica, alumina dan besi. Umumnya semen Portland dibuat dalam suatu  industri  berteknologi  modern  dengan  pengaturan  komposisi  yang akurat, sehingga terjamin mutunya. Namun demikian perbedan pengaturan komposisi     dan     lamanya   semen     Portland     dalam   penyimpanan memungkinkan terjadinya ketidakmurnian dan pengurangan mutu.  Mineral-mineral  dalam  semen  portland,  secara  individu  masing-masing    mempunyai    sifat-sifat    tersendiri    mengenai    waktu    hidrasi, perkembangan    kekuatan    tekan,    perkembangan    panas    hidrasi    dan sebagainya.  Dengan  menetapkan  batas-batas  tertentu  pada  kombinasi kimianya,   terbuka   kemungkinan   untuk   mengubah   sifat-sifat   semen Portland,   sehingga  menjadi   lebih   cocok   bagi   penggunaannya   dalam keadaan-keadaan khusus.  Kita  mengenal  5  tipe  semen  Portland,  yaitu  tipe  I,  II,  III  IV,  V, sesuai  dengan  klasifikasi  yang  ditentukan  oleh  ASTM.  Apabila  semen bereaksi  dengan  air,  maka  timbulah  panas  hidrasi  yang  cukup  banyak. Komponen  C 3 S  dan  C 3 A  menghidrasi  cukup  cepat,  sedangkan  C 2 S  dan C 4 AF menghidrasi lebih lambat serta mengeluarkan panas hidrasi dengan kecepatan yang lebih rendah. 

    Semen  portland  standar  digunakan  untuk  semua  bangunan  beton  yang tidak akan mengalami perubahan cuaca yang dahsyat atau dibangun dalam lingkungan yang sangat koresif.  Semen Portland Tipe II Untuk  bangunan  yang  menggunakan  pembetonan  secara  masal,  seperti dam,  panas  hidrasi  tertahan  dalam  bangunan  untuk  jangka  waktu  lama. Pada saat terjadi pendinginan timbul tegangan-tegangan akibat perubahan panas   yang   akan   menyebabkan   retak-retak   pada   bangunan.   Untuk mencegah  terjadinya  hal-hal  yang  tidak  diinginkan  itu,  dibuatlah  jenis semen  yang  mengeluarkan  panas  hidrasi  lebih  rendah  serta  dengan kecepatan  penyebaran  panas  yang  rendah  pula.  Dengan  memperhatikan rumus  untuk  menghitung  panas  hidrasi  jelaslah  bahwa  C 3 S  dan  C 4 AF menghidrasi  lambat,  dengan  menimbulkan  panas  hidrasi  lebih  rendah. Dengan  menambah  porsentase  C 2 S  dari  semen  portland  tipe   I  dan mengurangi prosentase C 3 A dan C 3 S disamping itu semen tipe II ini lebih tahan terhadap serangan sulfat daripada tipe I. Semen tipe II disebut juga “modified portland cement” dan penggunaannya sama seperti untuk tipe I ditambah dua keuntungan yang disebut diatas itu.

        Semen  portland  tipe  III  adalah  jenis  semen  cepat  mengeras,  yang  cocok untuk  pengecoran  beton  pada  suhu  rendah.  Kadar  C 3 S  dan  C 3 A  adalah tinggi,  tanpa  pembatasan  batas  atas  pada  prosentase  C 3 S,  sedangkan prosentase C 3 A cukup tinggi, sehingga tidak akan dicapai oleh semen tipe I.  Butiran-butiran  semennya  digiling  lebih  halus  daripada  butiran-butiran semen  tipe  I  untuk  mempercepat  proses  hidrasi,  yang  diikuti  dengan percepatan pengerasan serta percepatan pengembangan kekuatan.Kekuatan tekan 3 hari semen tipe III adalah sama dengan kekuatan tekan semen  tipe  I  umur  7  hari.  Semen  tipe  III  disebut  juga  “semen  dengan kekuatan  awal  tinggi”.  Jenis  ini  digunakan  bilamana  kekuatan  harus dicapai  dalam  waktu  sangat  singkat,  walaupun  harganya  sedikit  lebih mahal.  Biasanya  dipakai  pada  pembuatan  jalan  yang  harus  cepat  dibuka untuk  lalu-lintas;  juga  apabila  acuan  itu  harus  bisa  dibuka  dalam  waktu singkat. Panas hidrasi 50% lebih tinggi dari pada yang ditimbulkan semen tipe I. Semen  portland  tipe  IV  ini  menimbulkan  panas  hidrasi  rendah  dengan prosentase max. untuk C 3 S sebesar 35%, untuk C 3 A sebesar 7% dan untuk C 2 S prosentrase minimum sebesar 40%. Tipe IV ini tidak lagi diproduksi dalam  jumlah  besar  seperti  pada  waktu  pembuatan  Hoover  Dam,  akan tetapi  telah  diganti  dengan  tipe  II  yang  disebut  “modified  portland cement”.

 Semen   Portland   tipe   V   ini   tahan   terhadap   serangan   sulfat   serta mengeluarkan  panas.  Reaksi  antara  C 3 A    dan  gips  CaSO 4 ,  menyebabkan terjadinya  Calsium  sulfoalminat.  Dengan  cara  yang  sama,  dalam  semen yang telah mengeras, hidrat dari C 3 A dapat bereaksi dengan garam-garam sulphat  dari  luar.  Kemudian  membentuk  Calsium  sulfoalminat  di  dalam struktur  semen  pasta  yang  telah  terhidrasi  itu.    Semen  type  V  ini, mengandung  kurang  dari  5  %  C 3 A  dan  sejumlah  terbatas  C 4 AF  dan Magnesium.  Kadar  C 3 S  dibatasi  sampai  dengan  50  %  oleh  karena  C 3 S melepaskan  sejumlah  banyak  Ca(OH) 2   selama  berlangsungnya  hidrasi, sehingga  akan  mengurangi  ketahanan  semen  terhadap  serangan  kimia. Salah  satu  pengujian  yang  dapat  mengindikasikan  kepada  hal  tersebut adalah dengan pengujian berat jenisnya.

Berat jenis semen Portland pada umumnya  berkisar  antara  3.00  sampai  3.20  dengan  angka  rata-rata  3.15. Jika  berat  jenis  semen  Portland  kurang  dari  3.00  maka  semen  dianggaptidak  murni  lagi  atau  tercampur  bahan  lain,  dan  jika  digunakan  dalam pembuatan beton, maka beton yang dihasilkan bermutu rendah dan mudah rusak, begitu pula terhadap ikatan-ikatan tidak akan sempurna.     PERALATAN dan BAHAN yang biasa digunakan imbangan dengan ketelitian 0,01 gram, Lie Chaterlier Glass, Water Bath / Ember, Corong Kaca, Saringan No. 200, Kawat Pengaduk, Wash Bottle Bahan  : Minyak tanah, Semen Portland 64 gram. PROSEDUR PELAKSANAAN Cara Laboratorium Mengisi botol Lie Chaterlier yang bersih dan kering dengan minyak tanah yang telah disaring dengan skala 0 dan 1. Bagian dalam botol diatas permukaan cairan dikeringkan. Memasukkan botol Lie Chaterlier tersebut kedalam bak air dengan suhu antara 20° - 30° C ( suhu kamar ) yang tujuannya menyamakan suhu cairan didalam botol dengan suhu yang ditetapkan ( suhu kamar ). perendaman dilakukan selama 20 menit. Menimbang semen sebanyak 64 gram yang terlebih dahulu semen diayak dengan saringan Mesh No. 200. Setelah 20 menit, botol Lie Chaterlier dikeluarkan dari bak air dimana diharapkan suhu telah sama dengan suhu kamar, Baca Skala pada botol dan catat sebagai V1 Memasukkan semen Portland sebanyak 64 gram sedikit demi sedikit kedalam botol Lie Chaterlier. Hindarkan penempelan pada dinding dalam botol diatas cairan yaitu dibantu dengan corong kaca agar hal tersebut tidak terjadi. Setelah benda uji dimasukkan, tutup botol tersebut. Kemudian diputar-putar dengan posisi miring secara perlahan sampai gelembung udara tidak timbul lagi pada permukaan cairan. Mengulangi pekerjaan no. 2 yaitu memasukkan botol Lie Chaterlier yang telah berisi semen kedalam bak air atau  Water Bath selama 20 menit. Lalu dikeluarkan serta amati dan catat sebagai V2. Cara Lapangan Mengisi gelas ukur 500 ml dan 100 ml dengan minyak tanah masing-masing 150 ml dan 40 ml. Gelas ukur yang berisi minyak tanah tersebut dimasukkan kedalam water bath dengan suhu antara 20°-30° C selama 20 menit, dimana tujuannya menyamakan suhu dalam gelas ukur dengan suhu kamar. Timbang semen sebanyak 100 gram dan 25 gram yang terlebih dahulu semen diayak dengan saringan Mesh no. 200. Setelah20 menit, keluarkan gelas ukur tersebut dan amati volumenya dan catat sebagai V1. Masukkan semen yang telah ditimbang sebanyak 100 gr kedalam gelas ukur 500 ml dan 25 gr kedalam gelas ukur 100 ml. Memasukkan semen secara sedikit - sedikit  Mengocok gelas ukur tersebut hingga semen yang menempel pada dinding gelas ukur terkena minyak tanah agar bersih dan juga supaya gelembung-gelembung udara keluar. Masukkan kembali gelas ukur tersebut kedalam  Water Bath selama 20 Menit lalu dikeluarkan serta amati Volumenya dan catat sebagai V2.

Wah udah selesai ya kalau teman-teman mau minta contoh laporan lengkapnya beserta formatnya dapat kirim email ke kita ya dengan format nama/jurusan/universitas/judulnya, nanti akan kirim via email semoga bermanfaat yaa,..,.,

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Popular Posts