ATTERBERG LIMIT SNI 03 – 1966 - 2008 (LIQUID LIMIT TEST)

Hai teman-teman kali ini kita akan bahas mengenai praktikum mekanikah tanah yang mana materi kali ini berjudul ATTERBERG LIMIT, selamat membaca,.,.


atterberg, 1911 (dalamhardiyatmo, 1999), memberikan cara untuk menggambarkan batas konsistensi dari tanah berbutir halus dengan mempertimbangkan kandungan kadar airnya. batas batas tersebut adalah batas cair (liquid limit), batas plastis (plastic limit), dan batas susut (shrinkage limit). menurut atterberg, 1911 (dalam hardiyatmo, 1999) tingkat plastisitas tanah dibagi dalam 4 tingkatan berdasarkan nilai indek splastisitasnya yang ada dalam selangantara 0 % dan 17 %. percobaan atterberg limit merupakan percobaan untuk mengetahui jenis tanah dari batas cair, plastis dan indek splastisitas. tujuan dari praktikum ini agar mahasiswa mengetahui dan dapat menentukan sifat,  klasifikasi tanah dengan batas cair dan batas plastis dari suatu sampel tanah. Batas Cair (Ll), didefinisikan sebagai kadar air tanah pada batas antara keadaan cair dan keadaan plastis. peralatan yang diguanakan, cawanberdiameter 115 mm untuk mencampur tanah dengan air, spatula , alat batas cair(liquid limit test), grooving tool, cawan , alat extruder sampel , tabung sampel handbouring, timbangan dengan ketelitian 0,01 gram, oven pengering dengan kemampuan 1100c±50c. dalam persiapan bahan ambil sampel tanah di depan lab teknik , kemudian sampel tanah tersebut diangin-angin kan untuk menguapkan kandungan air sehingga gaya ikat antar tanah menjadi kecil (tanah gembur), hal ini bertujuan agar pada saat pencampuran dengan air suling kadar air. kepadatan tanah tidak dipengaruhi oleh kandungan air dalam tanah sebelum pencampuran,kemudian ambil sampel tanah sebanyak 200 gram. prosedur pelaksanaan, ambil sampel tanah 200 gram, tempatkan dalam cawan dan campurkan dengan air suling sebanyak 15-20 ml. campur merata dengan bantuan spatula, ambil sampel yang telah tercampur dengan homogen dan taruh dalam cawan batas cair. ratakan permukaan contoh dalam cawan sehingga sejajar dengan alas. buat alur pada sampel tersebut dengan menggunakan grooving tool. cara membuat alur adalah dengan memegang alat  grooving tool tegak lurus permukaan sampel. dengan bantuan alat pemutar, angkat dan turunkan cawan tersebut dengan kecepatan 2 putaran/detik. hentikan aksi tersebut jika alur sudah tertutup sepanjang 1,7 cm dan hitung beberapa ketukan yang dibutuhkan, ambil contoh tersebut sebagian untuk diperiksa kadar airnya, ulangi percobaan di atas dengan kadar air yang berbeda. Batas Plastis didefinisikan sebagai kadar air yang mana tanah mengalami retak-retak bila digulung dengan jari-jari tangan menjadi diameter ±3 mm. Batas plastis merupakan batas terendah dari kondisi plastis tanah. Batas plastis dapat ditentukan dengan pengujian yang sederhana dengan cara menggulung sejumlah tanah (seperti gambar 5.2) dengan menggunakan tanah secara berulang menjadi bentuk ellipsoidal. Kadar air contoh yang tanah yang mana tanah mulai retak-retak didefinisikan sebagai batas plastis. Stone &Phan(1995) menyebutkan bahwa penentuan batas plastis dengan menggunakan metode seperti diuraikan di atas mempunyai beberapa kekurangan. Hal ini disebabkan kesulitan dalam mengontrol, Pemberian tekanan selama penggulungan dengan tangan, Bidang kontak antara tangan dan tanah yang digulung, Gesekan antara tanah, tangan dan landasan, Kecepatan dalam menggulung. Batas plastis dan batas cair ditentukan dengan pengujian yang sederhana di laboratorium yang mana merupakan parameter yang penting diketahui untuk tanah berbutir halus atau tanah kohesif. Hasil dari pengujian ini sangat sering digunakan untuk menghubungkan dengan parameter fisis tanah seperti identifikasi dan klasifikasi tanah. Sistem klasifikasi AASHTO berguna untuk menentukan kualitas tanah.Tanah-tanah dalam kelompok ini biasanya merupakan jenis tanah lanau dan lempung. Sistem klasifikasi menurut AASHTO didasarkan pada kriteria sebagai berikut ini : Ukuran partikel Kerikil : fraksi yang lolos saringan ukuran 75 mm (3 in) dan tertahan pada saringan No. 10. Pasir : fraksi yang lolos saringan No. 10 (2 mm) dan tertahan pada saringan No. 200 (0.075 mm). Lanau dan lempung : fraksi yang lolos saringan No. 200. Plastisitas : tanah berbutir halus digolongkan lanau bila memiliki indek plastisitas, PI ≤ 10, dan dikategorikan sebagai lempung bila mempunyai indek plastisitas, PI ≥ 11. Peralatan Yang Digunakan, Cawan, Spatula, Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram, Oven pengering, Tabung untuk pengambilan sampel dari handboring, xtruder sampel ( alat untuk mengeluarkan sampel dari tabung ). Persiapan bahan yang harus dilakukan adalah :Ambil sampel tanah dari hasil handboring di belakang dekanat teknik pada   kedalaman 2 meter, Kemudian sampel tanah tersebut diangin-anginkan untuk menguapkan kandungan air sehingga gaya ikat antar tanah menjadi kecil (tanah gembur), hal ini bertujuan agar pada saat pencampuran dengan air suling kadar air kepadatan tanah tidak dipengaruhi oleh kandungan air dalam tanah sebelum pencampuran, Kemudian sampel tanah diambil sebanyak ± 150 – 200 gram.Prosedur pelaksanaan yang dilakukan yaitu : Ambil contoh tanah dan campur dengan air suling sampai merata dengan bantuan spatula, Jika tanah sudah homogen, sampel tanah diambil dan buat gulungan tanah sampai mencapai batangan-batangan dengan diameter 3 mm, Contoh tanah yang tepat pada diameter 3 mm mulai retak-retak menunjukan tanah dalam keadaan batas plastis, Sampel tanah tersebut diambil dan diperiksa kadar airnya. Jika batangan tanah belum mencapai diameter 3 mm sudah menunjukan retak maka tanah tersebut terlalu kering dan belum menunjukan retak tanah terlalu basah dan perlu dikeringkan dengan jalan didiamkan/diaduk-aduk dalam cawan pencampur. Indeks Plastis Untuk mengukur kekuatan tanah berdasarkan batas-batas konsistensi dikenal suatu parameter yaitu indek cair (liquidity index), LI, dimana :

a) Indeks Cair dapat dihitung dengan rumus sebaga berikut :

                      LI = Wn - PL

                                   PI

dengan  :        LI : Indeks cair

Wn : Kadar air normal

b)                  Indeks Plastisitas dihitung dengan rumus sebagai berikut :

                    PI = LL – PL

dengan :          PI : indeks plastisitas (plasticity index)dalam %.

            LL :batas cair (liquid limit) dalam %.

            PL :batas plastis (plastic limit) dalam%.

            W  : Kadar Air dalam %

Jadi, untuk lapisan tanah asli yang pada kedudukan plastis, nilai LL >WN> PL. Nilai indeks cair akan bervariasi antara 0 dan 1. Lapisan tanah asli dengan WN> LL akan mempunyai LI > 1.

Nah , udah jelas ya bagi teman-teman yang mau file laporannya silahkan email kita ya, teman-teman.

 

Post a Comment

0 Comments